Saya masih setia dengan laptop tua saya, Dell Latitude E7440. Secara teknis laptop ini sudah mentok semua upgrade hardwarenya, layar sudah saya upgrade jadi full HD dan RAM menjadi 16 GB. Saya memasang 2 hardisk di laptop ini, yang pertama adalah SSD 2.5 250 GB dengan OS Windows 10 dan SSD Msata 32 GB untuk nyoba distro linux.
Beberapa waktu lalu saya menginstall distro linux Pop OS di hardisk saya yang 32 GB. Setelah beberapa waktu menggunakan Pop OS, saya coba cek pemakaian storagenya. Saya pikir linux hanya akan memakai 10-15 GB saja, namun ternyata Pop OS menggunakan storage hampir 23 GB. Akhirnya saya coba periksa folder mana yang menggunakan storage cukup besar dan ketemulah dengan folder flatpak.
Apa itu flatpak?
Linux itu ada banyak jenisnya atau yang biasa disebut distro, ada ubuntu, fedora, debian, redhat, arch, dsb. Masing-masing punya versi file yang berbeda-beda agar sebuah software dapat berjalan. Aplikasi yang yang dibutuhkan agar sebuah software dapat diinstall dan berjalan dengan lancar disebut dependencies/ dependensi. Nah Flatpak membereskan itu dengan cara membungkus aplikasi dan semua kebutuhannya ke dalam satu "wadah" (container).
Sisi positifnya, instalasi dan update aplikasi sudah tidak terkendala jenis distro, repository maupun versi ketika kita menggunakan flatpak. Sisi negatifnya adalah penggunaan storage jadi lebih besar karena paket flatpak berjalan dalam mode sandbox (lingkungan terisolasi). Oleh karena itu, secara desain, flatpak memakan ruang penyimpanan yang cukup besar untuk sebuah aplikasi tunggal, bahkan untuk aplikasi kecil sekalipun. Hal ini terjadi karena flatpak mendownload semua dependensi (file pendukung) yang dibutuhkan aplikasi tersebut agar bisa berjalan secara mandiri. Keuntungan dari desain ini adalah kita tidak perlu khawatir tentang masalah dependensi atau pembaruan sistem yang berisiko membuat aplikasi Anda rusak atau tidak bisa dijalankan.
Fitur ini dapat berjalan lancar jika kapasitas hardisk kita memadai, namun jika kondisinya seperti saya yang hanya menggunakan hardisk berkapasitas 32 GB tentu akan sangat tidak kondusif.
Keterbatasan Spek
CachyOS
- Kernel Kustom: CachyOS menyediakan kernel yang dikompilasi khusus dan dioptimalkan untuk berbagai arsitektur CPU modern, bukan kernel generik, yang menghasilkan pengalaman lebih cepat dan snappy.
- Paket yang Dioptimalkan: Repositori CachyOS sendiri berisi paket perangkat lunak yang telah dikompilasi ulang dengan instruksi CPU spesifik, yang dapat memberikan peningkatan performa nyata dibandingkan paket Arch standar, terutama pada tugas-tugas intensif CPU.
- Pengalaman Gaming: Distro ini sangat direkomendasikan untuk gaming, dengan paket perangkat lunak khusus seperti COS Gaming Meta yang memudahkan instalasi semua alat yang dibutuhkan untuk bermain game di Linux.
- Menyediakan pilihan desktop environment yang cukup banyak, antara lain : KDE Plasma, Gnome, XFCE, Cosmic, Cinnamon, Budgie, Mate, LXQt, dan LXDE.
- Download file ISO dan membuat USB bootable menggunakan Ventoy. Saya pilih Ventoy karena lebih praktis daripada Rufus dan Balena Etcher. Di Ventory kita tinggal copy paste file ISO tanpa perlu format flashdisk.
- Proses instalasi membutuhkan koneksi internet karena ada sebagian software yang baru didownload ketika proses instalasi, proses ini membuat waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama.
- Partisi hanya saya bagi 3, yaitu untuk FAT32 EFI, EXT4 untukRoot (/), dan Linux Swap agar storage yang sedikit bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Instalasi Software
- Aplikasi seperti Firefox, Chromium, Brave Browser, Libre Office, Only Office telah tersedia di repository CachyOS sehingga kita benar-benar tidak membutuhkan flatpak untuk aplikasi seperti ini.
- Saya juga mencoba menginstall software yang tidak ada di repository, yaitu Zoom Meeting. Ternyata cukup mudah menginstall aplikasi tanpa software manager. Kita hanya perlu mendownload file installer berekstensi pkg.tar.gz kemudian buka konsole/terminal, masuk ke folder download dan jalankan command : sudo pacman -U zoom_x86_64.pkg.tar.xz.
Penggunaan Storage
Berdasarkan data di atas pemakaian storage hanya 13,74 GB dengan software yang sudah terinstall antara lain : firefox, chromium, brave browser, only office, telegram, VLC, dan zoom meeting.
Kemudian untuk RAM saat ini yang terpakai hanya 6 GB dengan software yang sedang dibuka antara lain : konsole, dolphin, chromum, brave, dan telegram.
Untuk pemakaian baterai menurut saya cukup bagus, CachyOS cukup ringan meskipun pakai KDE Plasma. Untuk pemakaian hampir 2 jam baterai hanya berkurang 40 persenan.
Sekian review singkat saya tentang CachyOS. Dengan keunggulan seperti ini, bisa jadi CachyOS akan bertahan cukup lama di laptop saya.